Jumat, 20 Mei 2011

(Masih) Tentang Rasa

Masih seperti malam-malam yang kemarin. Malam ini aku tidak dapat memejamkan mata barang sejenak. Jasad dengan pikiran seolah tak sinkron. Benar bahwa jasadku sekarang ada di ruang pertemuan Averroes yang biasa digunakan untuk rapat, tapi…pikiran?? Jangan Tanya lagi. Sangat liar. Bergerak sangat cepat kesana kemari. Sebentar ia melompat dalam memori waktu masih nyantri di Jombang, sebentar kemudian ia telah bersandar di depan teras perpustakaan kampus dengan beberapa buku di tas. Dan sebentar kemudian ia telah bertengger di Jakarta bagian selatan, dan sedikit lebih ke selatan. Mungkin ini yang agak lebih membuatku tidak bisa memejamkan mata, bahkan sejenak saja. Melayang-layang, pikiranku bertubrukan dengan seorang teman lama yang telah dahulu di sana. Dan saat ini sedang merenda memori, sedikit demi sedikit.

Tentang Rasa

Bergerak dan berarak kesana kemari. Menikmatinya dengan sungguh, karena kondisi seperti ini memang jarang menghampiriku. Syukurnya malam ini ada berbatang rokok dan beberapa makanan ringan yang setia menemaniku.
Sedikit tentang rokok, aku sadar bahwa ini membunuhku perlahan, tapi tuan…saat ini aku masih membutuhkan. Kembali lagi, kegalauanku (begitu teman-teman menyebutnya) ini aku yakini sebagai limpahan nikmat Tuhan. Ya benar, ini nikmat Tuhan yang tak tergantikan di tengah semakin bertambahnya umur. Di tengah tuna rasa, entah bahasa apa lagi yang aku gunakan untuk mengungkapkannya. Mungkin kalau boleh diungkapkan dengan kata, perjumpaan beberapa waktu yang lalu seperti segelas air di tengah gurun. Memang terasa sangat klise, tapi inilah yang saat ini aku rasakan.

Aku tidak tahu ke depan seperti apa. Yang jelas, bahwa bukan lagi waktuku untuk bermain rasa. Sudah bukan waktunya lagi meributkan sesuatu yang tidak penting. Bahwa sekarang adalah waktunya berusaha sekuat tenaga adalah niscaya. Tentunya bukan ranah itu semata, bebarengan dengan yang lain. Akupun yakin, bertambahnya umur dan pengalaman bisa sedikit lebih mendewasakanku dalam berfikir dan bersikap. Akupun berusaha bahwa langkah yang aku ambil ini bukan langkah yang sia-sia dan tanpa guna. Tentang rasa, mengikatnya dengan yang lain mungkin menjadi satu jawaban kegelisahan. Dengannya?? Semoga saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar