Minggu, 22 Mei 2011

Mitos Femenisme Kartini, Sebuah Konspirasi Politik Etis Kolonial

Judul buku     : Kartini Mati Dibunuh, Membongkar Hubungan Kartini dan Freemason
Peresensi
       : Siti Muyassarotul Hafidzoh*
Penulis
           : Efatino Febriana
Penerbit
         : Navila Idea Yogyakarta
Cetakan
          : 1, 2011
Tebal
              : 128 halaman 



KOMPAS.com — Tradisi surat-menyurat merupakan tradisi manusia modern pada abad ke-19 dan ke-20. Dari surat-menyurat itulah, peradaban Eropa dirakit hingga begitu hebatnya. Tradisi surat-menyurat menjadikan sebuah peradaban maju menggapai spirit pengetahuan. Itulah yang telah dilakukan Kartini untuk menunjukkan eksistensi kemodernannya. Kartini tak pernah menulis buku
, tetapi dia selalu berkorepondensi bersama para bangsawan cerdik yang memberikan informasi dan pengetahuan yang besar terhadap Kartini. Tak disangka, arsip surat-menyurat yang tersimpan itu diterbitkan. Nama Kartini kemudian menjadi perbincangan besar yang membuatnya sebagai tokoh perempuan yang dikagumi pada zamannya, bahkan sampai sekarang.

Novel tentang Kartini
Ketekunan Kartini dalam surat-menyurat inilah yang mengantarkannya dikenal banyak kalangan pejabat Belanda. Sebagai anak seorang Bupati Jepara, Kartini tentu mendapat perhatian serius dari pejabat Belanda sehingga surat-suratnya membuat Kartini juga harus terlibat dalam konspirasi penjajah yang sedang mencari celah dalam menaklukkan Nusantara. Dari sinilah, Kartini sebenarnya tidak sadar bahwa tradisi surat-menyuratnya justru dimanfaatkan Belanda dalam rangka politik konspirasi. Inilah yang coba diurai penulis buku bertajuk Kartini Mati Dibunuh: Membongkar Hubungan Kartini dan Freemason.

Sabtu, 21 Mei 2011

Kalut di Minggu Pagi

Serius, hari ini aku males banget untuk menorehkan kata demi kata di blog ini. Informasi yang aku dapat tadi pagi tentang diterimanya aku di salah satu perguruan tinggi negeri di Jakarta menjadi sebab. Perasaan menjadi campur aduk. Antara senang dan pastinya juga susah, bimbang menjadi satu tanpa bisa memilah irisan mana yang harus aku singkirkan untuk saat ini.

kekhawatiranku ini sebenarnya tidak prinsip banget, bukan permasalahan yang seharusnya dirisaukan sedemikian rupa. Tapi nyatanya, tetap saja seperti ada ganjalan dalam diriku.

Lantas, setelah berdiskusi dengan beberapa teman Averroes dan beberapa yang lain sedikit ada pencerahan. Kata mereka, "Sikat saja, ndak usah takut. Kekhawatiranmu itu tidak cukup beralasan Jib," begitu komentar beberapa teman. Beberapa saat kemudian aku langsung saja kontak beberapa alumni di PMII dan meminta waktu mereka untuk bertemu untuk menyampaikan uneg-uneg ini. Beberapa orang sudah menyediakan waktu nanti sore untuk bertemu. Semoga saja ada jalan....

Jumat, 20 Mei 2011

Tak Ada Pak Pram Arswendopun Jadi

Beberapa hari yang lalu, kalau tidak salah Selasa, setelah seharian menemani Mas Huda untuk colloquium di FISIP Brawijaya, malamnya aku jalan-jalan sendiri. Jangan diartikan jalan-jalanku ini nongkrong-nongkrong di mall ataupun di cafe. Ya karena memang nyatanya tidak demikian. Agak tidak lumrah sih, jalan-jalan kok ke Toga Mas? Salah satu toko buku di daerah Dieng. Tidak lain tidak bukan keinginanku ke sana untuk mencari roman Pak Pram yang selama ini aku impikan. Sudah sejak lama aku memimpikan bisa mendapatkan buku tersebut dan selanjutnya aku hadiahkan kepada orang yang tepat.



Eh ladalah ketika aku menemukan sosok yang tepat, giliran bukunya yang ndak ada. Karena tidak puas, tetap saja aku periksa satu persatu deretan buku-buku sastra di toko itu. Dan hasilnya setelah dua jam pencarian…

(Masih) Tentang Rasa

Masih seperti malam-malam yang kemarin. Malam ini aku tidak dapat memejamkan mata barang sejenak. Jasad dengan pikiran seolah tak sinkron. Benar bahwa jasadku sekarang ada di ruang pertemuan Averroes yang biasa digunakan untuk rapat, tapi…pikiran?? Jangan Tanya lagi. Sangat liar. Bergerak sangat cepat kesana kemari. Sebentar ia melompat dalam memori waktu masih nyantri di Jombang, sebentar kemudian ia telah bersandar di depan teras perpustakaan kampus dengan beberapa buku di tas. Dan sebentar kemudian ia telah bertengger di Jakarta bagian selatan, dan sedikit lebih ke selatan. Mungkin ini yang agak lebih membuatku tidak bisa memejamkan mata, bahkan sejenak saja. Melayang-layang, pikiranku bertubrukan dengan seorang teman lama yang telah dahulu di sana. Dan saat ini sedang merenda memori, sedikit demi sedikit.

Tentang Rasa

Bergerak dan berarak kesana kemari. Menikmatinya dengan sungguh, karena kondisi seperti ini memang jarang menghampiriku. Syukurnya malam ini ada berbatang rokok dan beberapa makanan ringan yang setia menemaniku.

Sengkarut Kudatuli, Sejarah yang Dikubur

Tulisan ini sebenarnya berangkat dari kegelisahan pribadi melihat kasus-kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang tak kunjung selesai. Salah satunya adalah penyerbuan kantor PDI kubu Megawati, 27 Juli 1996, yang berada di Jalan Diponegoro 58 Jakarta yang juga tidak ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab sampai hari ini. Beragam aksi penuntutan penuntasan kasus tersebut, yang dilakukan oleh berbagai kelompok, seolah dianggap pemerintah sepintas angin lalu semata.



Sampah Komunikasi


Komunikasi saat ini sudah tidak lagi mensyaratkan perjumpaan fisik. Munculnya jejaring sosial semacam facebook, twitter dan yang lainnyalah mempengaruhi pola perubahan komunikasi masyarakat kita saat ini. Perjumpaan-perjumpaan yang dahulu mensyaratkan fisik sekarang sudah berubah. Tanpa kehadiran fisik, komunikasi bisa tetap saja bisa berlangsung. Ruang dan waktu seakan benar-benar dilipat, tak ada jarak yang memisahkan. Kemajuan tekhnologi yang tidak bisa dibendung bertanggung jawab penuh dalam hal ini.

Di satu sisi, kita banyak diuntungkan dengan sisi kemajuan teknologi tersebut. Menjalin komunikasi bisa dilakukan sewaktu-waktu. Namun tidak semua perkembangan tekhnologi itu berdampak positif. Setidaknya ketika kita dimanjakan dengan pola-pola komunikasi seperti itu, semakin malas saja kita untuk bertemu secara langsung. Dalam berkomunikasi secara virtual, kita tidak bisa melihat ragam ekspresi lawan bicara kita. Sehingga kita hanya mengetahui dari tanda-tanda yang terkirimkan semata. Sedangkan tanda-tanda yang lain, semisal gesture tubuh, tidak bisa kita lihat. Padahal dari gesture itulah kita bisa menangkap beragam makna yang tidak terucap.

Membaca Gerakan Mahasiswa di Indonesia


Dinamika Demokrasi - Dalam kesejarahan bangsa Indonesia, mahasiswa menjadi salah satu elemen penting dalam melakukan perubahan sosial. Semangat yang kritis dan sikap revolusionernya mampu menorehkan keberhasilan dalam usahanya mengganti rezim pemerintahan yang dinilai otoriter. Di Indonesia sendiri gerakan mahasiswa setidaknya dimulai dengan berdirinya Boedi Oetomo (1908) yang diprakarsai salah satunya oleh Sutomo dengan mengusung misi “rakyat berdaulat.” Kemudian pada tahun 1928 muncul Sumpah Pemuda yang mengusung i'tikad bersama, “satoe tanah air, satoe bangsa, dan satoe bahasa.”

Kamis, 19 Mei 2011

Ini Tentang Rasa



Beberapa hari terakhir ini, selalu saja saya disibukkan dengan perasaan-perasaan yang tak kunjung bertemu dengan jawaban. Bahkan sampai saat ini. Masih saja tetap. Ada beberapa kekhawatiran yang terus saja menggelayut. Antara harapan, impian dan kenyataan. Meski itu masih samar dan sulit untuk diraba.

Ketakutan untuk terperosok dalam lubang yang sama sebenarnya dengan sepenuh sadar aku pahami. Waktu yang terbuang secara cuma-cuma. Energi yang selalu saja terkuras entah ke mana, dan seabrek permasalahan lain yang berjajar. Jujur juga saya akui, bahwa ini adalah soal diriku sendiri, tidak orang lain. Kemampuanku untuk me manage inilah yang saya pikir menjadi akar permasalahan. Pernah suatu ketika ada seseorang yang bilang kepadaku, “Mas, sampean itu manajemen datanya jelek ya.” Akupun tersenyum saja menanggapi, dan dalam hati bahkan aku mengamininya. Bahkan, seharusnya dia ngomong lebih dari itu. Tidak hanya tentang manajemen data semata yang buruk, tapi juga tentang yang lainnya. Ya…benar, masalah jatuh cinta, masalah rasa.

Rabu, 18 Mei 2011

Komunisme

Senin, 24 Januari 2011


Jika komunisme adalah masa lalu, ketakutan kepadanya setali tiga uang dengan nostalgia. Tapi haruskah ide ini hanya disikapi demikian, bila ia adalah impian yang tak pernah lapuk oleh cuaca yang berganti?

Kita bersua dengan Gonzalo: tokoh dalam lakon Shakespeare, The Tempest (diterjemahkan Trisno Sumardjo sebagai ”Prahara”). Ia penasihat Raja Alonso dari Napoli. Di tengah kelicikan dan tipu-menipu politik, orang tua ini tetap baik hati. Sejak awal lakon kita tahu ialah yang menolong Prospero dan putrinya ketika mereka dihanyutkan ke laut. Ia juga yang merayakan perdamaian di antara para bangsawan yang bertikai—orang-orang serakah dan mendendam yang akhirnya bertemu kembali di pulau yang penuh sihir itu.