UNTUK memahami gerakan teroris yang terjadi akhir akhir ini di
Surakarta dan Jakarta, kita harus menilik beberapa kejadian teror yang
melibatkan kalangan radikal dan fundamentalis Islam sejak 1999.
Gerakan Jamaah Islamiyah (JI), yang pada awalnya Darul Islam (DI)
atau Negara Islam Indonesia (NII), membuat sebuah doktrin gerakan yang disebut
dengan `Doktrin Hambali'. Doktrin tersebut memerintahkan serangan pada Syawal
terhadap orang-orang atau lembaga yang dianggap sebagai hegemoni bukan muslim.
Jika Hari Raya Idul Fitri secara kebetulan berdekatan dengan 17 Agustus,
serangan akan ditujukan kepada aparat atau orang-orang yang dianggap sebagai
wakil dari momen nasional. Maka, polisi pun diserang pada 17, 18, dan 19
Agustus 2012 di Surakarta, Jawa Tengah. Doktrin itu mulai dipraktikkan sejak
2000 dengan menyerang simbol-simbol dan lembaga yang diwakili simbol yang bukan
muslim. Pada 2000, perayaan Idul Fitri kebetulan berdekatan dengan Hari Natal
dan serangan dilakukan ke gereja di 17 kota pada malam Natal.