Selasa, 18 September 2012

Kelatenan Terorisme


REPUBLIKA.CO.ID, oleh: Azyumardi Azra
Selasa, 18 September 2012, 05:00 WIB

Terorisme masih laten di negeri ini, seperti terlihat dari penyergapan di Solo dan Depok da lam pekan terakhir Agustus dan awal September 2012. Polisi bahkan juga menduga ledakan besar yang terjadi di Beji, Depok, akhir pekan lalu ter kait dengan Thoriq, seorang terduga teroris yang buron pascapenyergapan Solo.

Rabu, 12 September 2012

Akar Budaya Pertumbuhan Gerakan Teroris


UNTUK memahami gerakan teroris yang terjadi akhir akhir ini di Surakarta dan Jakarta, kita harus menilik beberapa kejadian teror yang melibatkan kalangan radikal dan fundamentalis Islam sejak 1999.

Gerakan Jamaah Islamiyah (JI), yang pada awalnya Darul Islam (DI) atau Negara Islam Indonesia (NII), membuat sebuah doktrin gerakan yang disebut dengan `Doktrin Hambali'. Doktrin tersebut memerintahkan serangan pada Syawal terhadap orang-orang atau lembaga yang dianggap sebagai hegemoni bukan muslim. Jika Hari Raya Idul Fitri secara kebetulan berdekatan dengan 17 Agustus, serangan akan ditujukan kepada aparat atau orang-orang yang dianggap sebagai wakil dari momen nasional. Maka, polisi pun diserang pada 17, 18, dan 19 Agustus 2012 di Surakarta, Jawa Tengah. Doktrin itu mulai dipraktikkan sejak 2000 dengan menyerang simbol-simbol dan lembaga yang diwakili simbol yang bukan muslim. Pada 2000, perayaan Idul Fitri kebetulan berdekatan dengan Hari Natal dan serangan dilakukan ke gereja di 17 kota pada malam Natal.

Rabu, 16 Mei 2012

Review Cultivating Development, An Ethnography of Aid Policy and Practice


Buku Cultivating Development ini inspirasinya didapatkan Mosse ketika ia menjadi konsultan di India pada dekade 90-an. Dalam kesehariannya, ia berkonsentrasi memberikan masukan menyangkut isu-isu pembangunan, partisipasi dan juga institusi lokal. Dalam pandangan Mosse, kebijakan-kebijakan untuk menanggulangi kemiskinan di negara-negara tersebut seringkali tidak berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan seperti awalnya. Dalam penelusurannya yang dilakukan secara etnografi, Mosse mengungkapkan bahwa kebijakan dalam pemberian bantuan kepada mereka malah seringkali terjebak dalam konsep-konsep baru yang membingungkan.